Rabu, 08 Agustus 2018

BUKAN PILIHANKU



Akhir bulan Oktober lalu aku pulang dari pondok pesantren dengan membawa segenap pengetahuan dan pengalaman. Sabtu siang pengasuh pondokku telah resmi melepasku dan mengembalikanku ke pangkuan orang tuaku. Ayah dan ibuku telah 'memungutku' kembalii setelah beberapa tahun mereka 'membuangku' ke pesantren. "Akhirnya aku bebas juga dari penjara suci itu," Kataku dalam hati. Sebagai seorang alumni pesantren, aku sangat menyadari bahwa aku pulang membawa beban moral yang cukup berat, aku harus bisa menjaga nama baikku dan keluarga. Akan teapi aku tak terlalu memikirkan hal itu. Ibarat burung yang baru lepas dari sangkarnya, aku mulai terbang bebas sesuka hatiku menikmati duniaku yang baru. Gaya hidupku yang baru sangat jauh berbeda dengan yang dulu. Aku tak lagi dibelenggu oleh seperangkat aturan. Aku juga tak perlu lagi berlama-lama antre untuk mandi. Sebelum tidurpun aku tak perlu rebutan bantal dulu. Bahkan untuk makanpun aku tak perlu bersusah payah memasak sendiri. Aku benar-benar seperti budak yang baru saja merdeka. Kunikmati kemerdekaanku sepuas hatiku sampai akhirnya aku lupa latar belakangku sebagai santri. Sarung motif kotak yang dulunya jadi kebanggaanku telah berganti celana jeans a abu-abu. Kopiah yang dulu tak lepas dari kepalaku sudah menjadi sarang nyamuk di dinding kamarku. Buku-buku fiksi yang setia menemaniku sebelum tidur telah berganti dengan sebatang telepon genggam yang canggih. Alat itu membuat kebebasanku semakin tidak terbatas. Aku dapat mengintip dunia hanya dengan sentuhan jari. Segudang informasi bisa kudapat dengan mudah, tak terkecuali informasi-informasi yang negatif. Tak sulit bagiku mendapatkan seribu teman melalui seperangkat aplikasi media sosial dalam smartphoneku itu.

Baru tiga bulan aku hidup di luar pesantren, identitas kesantrianku sudah luntur. Penampilanku tak lagi mencerminkan diriku sebagai 'bekas santri'. Sikapku terkadang tak menggambarkan pribadiku sebagai alumni pesantren. Mungkin benar analogi orang-orang terdahulu bahwa pondok pesantren itu tak ubahnya rumah sakit. Siapapun pasien yang dirawat di rumah sakit, betapapun lamanya pasien itu mendapat perawatan dokter, tetap tak ada jaminan kesembuhan bagi mereka setelah keluar dari rumah sakit. Sangat mungkin terjadi penyakitnya tambah parah karena salah obat, salah perawatan dan lain sebagainya. Akulah pasien yang lama dirawat di rumah sakit dan baru pulang kerumah namun sayang sakitku semakin parah. Aku sendiri tak pernah menyadari perubahan sikapku yang semakin jauh dari etika dan norma kepesantrenan. Tapi yang jelas orang-orang disekitarku berkata begitu. Aku sering terkena marah ayah dan ibuku karena sikapku yang kadang membuat malu keluarga. Apalagi saat ada laporan kepada mereka bahwa aku pernah berjalan-jalan dengan seorang wanita ke sebuah tempat wisata. Ayahku marah besar, tak pernah sebelumnya ia semarah itu padaku. Kalau saja aku tidak menghindar saat itu, mungkin telapak tangannya sudah mendarat dipipiku. Ayahku memang sangat melarangku dekat dengan seorang wanita terkecuali dengan Alin tunanganku. Aku ditunangkan dengan Alin saat aku masih ada di pondok pesantren. Alin memang cantik, tapi kecantikannya tak membuatku tertarik untuk mencintainya. Pertunanganku dengan Alin merupakan kehendak ayah dan ibuku. Alin adalah putri tunggal teman ayahku. Hubungan keluargaku dengan keluarga Alin sangat dekat melebihi hubungan besan pada umumnya. Diawal perjalanan, hubunganku dengan Alin baik-baik saja. Tapi ditengah jalan kita tersandung batu perselisihan yang mengakibatkan pertengkaran hebat antara kita. Lalu Alin memutuskan tali pertunangan kita. Akhirnya kita berjalan sendiri-sendiri. Satu permintaanku kepada Alin untuk tidak menceritakan hancurnya hubungan kita kepada keluarga kita karena aku tak ingin mereka kecewa. Suatu saat nanti mereka pasti akan tahu sendiri bahwa aku tidak pernah memilih Alin untuk jadi calon pendamping hidupku.

Delapan bulan sudah aku meninggalkan pondok pesantren. Sikapku semakin sering mengecewakan ayah dan ibuku. Akhirnya timbul hasrat dari mereka untuk segera menikahkanku. Mungkin mereka berfikir aku akan lebih baik dan dewasa kalau aku sudah berkeluarga. Senin malam sekitar jam sembilanan ibuku menghampiriku yang sedang asyik 'chating' dengan temanku via facebook. Lalu ibu membuka percakapan,

"Gimana lamaran kerjamu yang kemarin, ada tindak lanjut ?" Tanya ibuku basa-basi
.
"Masih nunggu panggilan Bu," jawabku singkat.

"Ya udah yang sabar aja. kalau memang rezeki kamu pasti lamaranmu akan diterima," kata ibuku yang membuatku heran karena tiba-tiba bersikap lembut kepadaku.

"Ya Bu, jangan lupa doain aku," jawabku sekenanya.

"Emmh,, Ibu perhatikan kamu sudah semakin dewasa, ibu lebih senang kalau kamu segera menikah saja." Sambung ibuku dengan nada membujuk.

 "Nikah itu soal gampang Bu, yang susah cari nafkah," kataku sambil menatap layar smartphonku.

"Sebentar lagi Alin akan lulus, pasti mertuamu senang kalau kamu segera menikahi Alin, kamu bisa bantu-bantu ngurus warung sembakonya." Tutur ibu makin melayang kemana-mana pikirannya.
"Tidak. Aku belum ingin menikah." Jawab sambil beranjak dari tempat dudukku menuju kamar tidurku.

Tak cukup sampai disitu, hari-hari berikutnya ayah dan ibuku sering mendesakku untuk segera menikah, tapi aku tetap kokoh dalam pendirianku. Kakakkupun yang kebetulan saat itu ada di rumah juga ikut-ikutan memaksaku untuk segera menikah dengan Alin. Berbagai cara telah dilakukan oleh keluargaku agar aku segera menikah tapi semuanya sia-sia. Cara terakhir yang dilakukan oleh kekuargaku yaitu menganak tirikan diriku, atau bahasa yang lebih tepat aku dikucilkan oleh keluargaku. Aku merasa seperti orang asing dirumahku sendiri. Ayah dan ibuku seperti tak mempedulikanku lagi. Kasih sayang mereka sepenuhnya ditumpahkan kepada kakakku dan istrinya yang kebetulan baru menikah sekitar setahun yang lalu. Seminggu aku tersisih dari perhatian ayah dan ibuku, akhirnya aku menyerah, kuturuti aja desakan ayah dan ibuku untuk segera menikahkanku. Tengah malamnya aku memberanikan diri untuk menghadap ayahku yang sedang duduk termenung di ruang tamu.

"Yah, kutahu ayah marah dan kecewa padaku, tapi bukan begini caranya." Kataku membangunkan ayah dari lamunannya.

"Aku malu punya anak sepertimu." Kata ayah tanpa memandangku.

"Maafkan aku Yah. Sekarang aku menyadari kesalahanku." Lanjutku yang kemudian ayah memotongnya.

"Apa artinya kata maaf kalau kamu tetap tak mau menurut kepada ayah dan juga ibumu," jawab ayahku penuh kekecewaan.

"Maafkan aku Yah. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku," Kata maaf keduaku memelas.

"Bakti dan kepatuhanmu kepada ayah jauh lebih berharga daripada kata maaf." Tegas ayahku.
"Beri tahu aku cara membuktikan baktiku kepada ayah dan ibu." Lanjutku.

"Caranya cuma satu, aku dan ibumu ingin kamu segera menikah," jelas ayahku tak panjang lebar.

"Jika itu membuat ayah dan ibu bahagia, baiklah..Aku siap menikah," jawabku dengan tegas.
Seketika itu juga ibuku keluar dari kamar tidurnya dan menghampiriku. Kupikir ibuku sudah tidur tapi ternyata ia menguping pembicaraanku dengan ayah. Lalu ibuku duduk disampingku dan mulai 'nimbrung' pembicaraan.

"Anakku, kamu bersungguh-sungguh kan?" Tanya ibuku sambil tangannya mengusap pundakku.

"Ya Bu. Aku sudah siap menikah." Jawabku sambil menundukkan kepalaku. Kulihat setitik kebahagiaan di wajah ibuku saat mendengar jawabanku yang memang sudah lama ia impikan.

"Malam ini dada ibu sedikit lega Nak. Akhirnya kamu mau berbakti dan patuh kepada ayah dan ibu yang sudah tua ini. Ibu harap kedepannya kamu menjadi,,,,,". Belum selesai ibu bicara, aku langsung memotongnya,

"Aku mau menikah, tapi aku tak mau menikah dengan Alin." Begitu tegasku di depan kedua orang tuaku.

"Maksudmu apa Nak, jangan permainkan ayah dan ibu" Kata ibu tersentak.

"Aku mau menikah asal bukan dengan Alin Bu. Aku tidak mencintai Alin. Sudah lama aku tidak menghubunginya dan ia juga tak mau tahu tentangku. Ikatan pertunangan kita telah putus seminggu sebelum aku meninggalkan pondok pesantren. Kita bertengkar karena suatu permasalahan. Atas kehendak Alin hubungan kita putus. Dan aku tak pernah menyesal putus dengan Alin karena ia memang bukan pilihanku." Tegasku berterus terang. Seketika itu ayahku membentak,

"Tidak. Kamu harus menikah dengan Alin," Bentak ayahku dengan bibir bergetar.
Ibu hanya diam setelah mendengar penjelasanku. Matanya menatapku memancarkan kekecewaan. Lalu air matanya mulai membasahi pipinya yang sudah tidak kencang lagi. Disela-sela tangis ibuku, aku mencoba menenangkan hati ibu. Kujelaskan bahwa ada banyak wanita yang jauh lebih baik dan lebih cantik dari Alin. Aku juga menjelaskan bahwa aku sudah mendapatkan pengganti Alin. Bahkan aku siap menikah dengan wanita itu kalau memang ibu merestui. Mendengar penjelasanku, wajah ayahku langsung merah. Lalu ia bangkit dan mendekatiku. Secepat kilat telapak tangan ayah mendarat dipipiku. Aku beranjak pergi meninggalkan suasana dalam rumah yang masih panas. Malam itu aku tidur dirumah tante Ira adik perempuan ayahku. Pagi harinya aku pulang dengan maksud minta maaf karena kupikir suasana sudah lebih baik. Sesampainya dirumahku, aku melihat sekotak kardus terikat rapi di ters rumahku. Kupikir ada sanak keluarga dari jauh yang silaturahmi kerumahku. Baru aku menginjakkan kakiku di teras rumah, ayahku keluar dan berteriak mengusirku.

"Pergi kau... Pergi.. Jangan pernah kembali. Aku tak sudi punya anak sepertimu. Bawa semua pakaianmu." Usir ayahku sambil menunjuk kardus yang ternyata berisi pakaianku. Tak lama kemudian ibuku muncul, sama dengan ayah, ibupun mengusirku. Saat itulah aku tak dapat membendung air mataku karena orang yang rahimnya pernah kusinggahi dan air susunya telah menjadi darah dagingku, juga mengusirku pergi.

Aku tetap duduk tak jauh dari kardus yang berisi pakaianku itu sambil sesekali menyeka air mataku yang terus berlinang. Tak ada niat sedikitpun dalam hatiku untuk pergi meninggalkan ayah dan ibu sekalipun mereka mengusirku. Aku menyadari bahwa saat itu keadaan masih panas. Di dalam rumah, ayah terus memaki dan menyumpah-nyumpah diriku. Ia ttahu bahwa aku masih berada diluar dan tak mau pergi. Tiba-tiba ayahku keluar dan mendekatiku lalu mengayunkan kakinya ke arah pahaku. Ssebuah tendangan sedikit menggeser posisi dudukku. Tangan ayahpun bertubi-tubi kurasakan mendarat dibeberapa bagian tubuhku. Aku tak menghindari pukulannya karena memang pantas aku menerimanya. Tak sepatah katapun yang keluar dari mulutku, hanya air mata yang terus membasahi pipiku. Tanpa kusadari ternyata ibu sudah berdiri di depan pintu utama rumahku. Aku bergegas mempirinya. Tanpa kata-kata aku langsung bertekuk lutut dihadapannya. Sementara air mataku semakin deras membasahi bagian depan kaos warna hitam yang kukenakan.

"Pergilah.. Ibu belum bisa memaafkanmu." Kata ibu sedikit parau. Kuyakin kata-kata itu bukan berasal dari hatinya. Sepintas aku berfikir mungkin ini cara ibu mendewasakan anaknya yang ia sayangi. Lalu aku bangkit dan menyambar kardus yang sudah menungguku. Aku melangkah meninggalkan halaman rumahku menuju rumah tante Ira. Setibanya dirumah tante ira, tak seorangpun yang kutemui, semua penghuninya telah berangkat kerja. Akhirnya aku membulatkan tekad untuk pergi. Pagi itu juga aku pergi hanya membawa beberapa lembar pakaian saja, selebihnya kutinggal dirumah tante ira. Langkahku semakin jauh meninggal rumah tanteku menuju rumah teman Sekolah Dasarku dulu. Untuk sementara waktu aku 'numpang' dirumah temanku yang kebetulan aku juga kenal akrab dengan keluarganya. Seminggu lamanya aku tinggal dirumah temanku, kupikir pintu maaf ayah dan ibuku sudah terbuka untukku. Aku pulang membawa harapan semoga ayah dan ibu memaafkan dan menerimaku kembali tinggal bersama mereka.

Sesampainya dirumah, kulihat istri kakakku sedang menonton televisi. Aku cuek saja dan langsung ke kamarku. Sedikit hatiku kecewa karena ternyata kamarku sudah ditempati kakakku yang sebelumnya tinggal di rumah mertuanya. Aku buru-buru keluar kamar dan melangkah pelan bermaksud mencari ayah dan ibu untuk minta maaf. Tiba-tiba suara ibuku mengagetkanku.

"Jangan pernah kau kembali kalau bukan untuk menikahi Alin." Kata ibuku yang menatapku dari pintu dapur.

"Maafkan aku Bu. Aku tak bisa mencintai Alin. Dia bukan pilihanku." Jawabku penuh hormat. Seketika itu ayah muncul dari pintu belakang, matanya merah memancarkan kemarahan, tangannya mengenggam sebatang patahan bambu. Aku segera melompat dan berlari keluar, ayah memburuku sampai ke halaman sambil menyumpah-nyumpah diriku. Terpaksa aku meninggalkan rumahku yang kedua kalinya. Aku melangkah tanpa tahu tujuanku kemana. Tak mungkin juga aku kembali kerumah temanku. Akhirnya dengan sangat terpaksa aku tinggal bersama tante ira. Empat hari 'numpang hidup' di rumah tanteku, aku dapat panggilan kerja, lamaranku beberapa minggu yang lalu diterima dan aku resmi jadi pramuniaga disebuah mini market. Sebulan lebih aku tinggal di rumah tanteku, tak ada respon dari ayah dan ibu tentang keadaanku. Bahkan kudengar kabar bahwa ayah dan ibu sudah tak menganggapku sebagai anaknya. Kabar itu seperti duri yang melukai hatiku, kecil lukanya tapi perihnya sangat menyiksa. Aku merasa tak punya apa dan siapa dalam hidupku, dua orang yang paling berharga telah membuangku seperti membuang ludah. Kepalang basah akhirnya aku mandi saja, tanpa sepengetahuan tante ira aku pergi meninggalkan rumahnya. Tak seorangpun diantara keluargaku yang tahu kemana aku pergi. Seribu pertanyaan dikepala mengantar kepergianku. Seberapa besarkah salahku kepada ayah dan ibuku hingga tak ada maaf bagiku? Apa hanya karena aku tidak mau menikah dengan Alin mereka tega menelantarkanku? Seistimewa itukah Alin dimata mereka hingga mereka membuang anak kandung mereka?

Aku benar-benar tidak mengerti jallan pikiran ayah dan ibuku. Aku menyadari bahwa membangkang kepada kedua orang tua itu dosa besar. Aku juga mengerti bahwa ridho dan murka tuhan ada pada orang tua, tapi aku tidak yakin bahwa tuhan memaksaku menikahi Alin seperti ayah dan ibuku yang terus memaksakku menikah dengan Alin. Mungkin tak sedikit orang yang mengklaimku sebagai anak durhaka tapi sampai kapanpun aku takkan menyerah untuk memburu kata maaf dari ayah dan ibuku. Sejujurnya aku benci jalan hidupku yang penuh lumpur dosa tapi kenyataan telah menuntunku melangkah di atasnya meski sebenarnya jalan itu bukan pilihanku.

# # #

"Sudah lama nunggunya?" Kata Andi yang memang kutunggu kedatangannya.

"Gak kok, baru beberapa menit yang lalu." Jawabku.

"Mau jalan-jalan dulu apa langsung ke kontrakanku?" Tanya Andi kepadaku.

"Langsung aja Sob. jalan-jalannya kapan-kapan aja." jawabku sambil menggendong kembali tasku.

Sesaat kemudian kita meluncur meninggalkan terminal. Sore itu adalah kali pertama aku menghirup udara ibu kota. Sepanjang perjalanan menuju kontrakan, mataku disuguhkan dengan bangunan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Berbagai jenis kendaraan dan alat angkutan saling mendahului memenuhi badan jalan raya. Suara klakson bersahutan menandakan padatnya lalu lintas saat itu. Sesekali motor matic yang kita kendarai harus terhenti karena harus mematuhi lampu lalu lintas. Setelah setengah jam dalam perjalanan, Andi membelokkan motornya ke arah kiri memasuki gang disamping kiri warung kopi. Sesaat kemudian kita telah memasuki halaman sebuah rumah dua lantai yang bercat cokelat muda. Selesai memarkir motornya, Andi langsung mengajakku menaiki tangga yang merupakan jalan satu-satunya menuju ke lantai atas. Sesampainya di atas kulihat seorang laki-laki yang usianya kutaksir lebih muda dariku. Ia sedang sibuk dengan laptop yang ada dihadapannya. Ternyata ia adalah adiknya Andi yang baru tiga bulan tinggal bersama Andi. Ia bekerja bersama kakaknya di sebuah resto. Selang beberapa saat kemudian kita bertiga duduk santai melepas lelah sambil mengobrol. Lalu Andi menanyakan sebab kepergianku meninggalkan rumahku. Kuceritakan apa adanya kepada Andi bahwa aku diusir oleh orang tuaku karena tidak mau dinikahkan dengan wanita pilihan mereka. Orolan kita terhenti sejenak karena tiba-tiba seorang wanita separuh baya menghampiri kita dan menitipkan kunci pagar ke Andi. Wanita itu menatapku sebentar lalu kemudian pergi. Ternyata wanita itu adalah pemilik rumah kontrakan, namanya Ibu Sarah. Ia tinggal di lantai dasar bersama dua orang anaknya.

Tiga hari aku 'numpang' di kontrakan Andi, pikiranku mulai menerawang ke dompetku yang mulai menipis. Maklum, karena memang aku pergi hanya berbekal uang dari gaji pertamaku saat aku masih bekerja di mini market di kampungku. Sejak itulah timbul hasratku untuk mencari kerja. Aku minta bantuan Andi mencarikan info lowongan kerja. Aku juga sering 'search' info loker di internet. Disuatu pagi aku meminjam motor Andi yang sedang 'nganggur' karena memang orangnya 'shift' sore. Aku segera meluncur ke sebuah perusahaan jasa pengiriman barang yang kabarnya sedang membutuhkan karyawan baru. Dengan seperangkat surat lamaran aku memberanikan diri memasuki kantor yang bersebelahan dengan toko elektronik itu. Seorang wanita berambut sebahu menyambut kedatanganku dan menyapaku.

"Ada yang bisa saya bantu Mas?" Tanya wanita itu yang tak lain adalah resepsionis.

"Maaf Mbak. Apa benar disini buka lowongan kerja?" Tanyaku kepada wanita itu.

"Iya benar Mas, tapi sudah ditutup dua hari yang lalu. Kemarin ada belasan orang yang interview disini." Jawab wanita itu.

"Oh gitu ya Mbak, makasih atas informasinya." Kataku dengan wajah kecewa.

Lalu aku segera meninggalkan kantor perusahaan jasa itu dengan membawa kegagalan. Tak cukup sampai disitu, hari-hari berikutnya aku terus berusaha untuk mendapatkan pekerjan. Puluhan surat lamaran kulayangkan, beberapa panggilan interview kupenuhi tapi sayang keberuntungan tak berpihak padaku. Aku selalu gagal memperoleh pekerjaan. Terakhir aku mendapat panggilan dari sebuah bank swasta, aku memenhi panggilan itu dengan harapan aku dapat diterima kerja. Alhasil aku dinyatakan diterima dengan syarat aku harus memenuhi ketentuan dari pihak bank, diantaranya aku harus mmbayar biaya administrasi atau gampangnya aku harus bayar uang muka terlebih dahulu sebelum aku resmi jadi karyawan bank tersebut. Karena biaya itu terlalu besar dan aku tak mungkin mampu membayarnya, maka aku pilih mundur. Aku meninggalkan bank itu dengan menggenggam kegagalan yang kesekian kalinya.

Ditengah perjalanan pulang menuju kontrakan, aku terjebak hujan deras. Terpaksa aku berteduh di sebuah warung es buah yang kebetulan 'tutup'. Saat itulah mataku tak sengaja melihat ibu-ibu yang juga numpang berteduh di bengkel mobil yang letaknya berseberangan dengan warung es buah. Kutaksir ibu itu seumuran dengan ibuku di kampung. Saat itulah aku jadi teringat ibuku. Wajahnya seperti terlukis indah di langit kelabu. Suaranya seperti memanggil-manggil namaku disela gemercik air hujan. Lalu kurasakan ada gemuruh rindu dalam hatiku yang aku sendiri tak tahu kapan akan mereda. Semakin aku mengingat ibu, semakin besar pula rasa bersalahku padanya. Bahkan aku yakin bahwa setiap kegagalan yang alami ada hubungannya dengan kesalahan dan dosaku kepada ibu. Seketika itu juga penyesalan datang menyelimuti hatiku. Aku sadar bahwa tekadku pergi meninggalkan keluargaku bukanlah keputusan yang tepat. Aku sangat menyesali sikapku yang bodoh dan ceroboh. Bahkan hati kecilku tak henti-hentinya memakiku.

"Rasakan! Itu balasan bagi orang yang membangkang kepada orang tua, itu akibat dari kecerobohanmu dalam mengambil keputusan. Andai kau mau bersabar dan tetap tinggal bersama tantemu, mungkin keadaannya lebih baik dari ini." Aku hanyut dalam lamunan hingga akhirnya linangan air mata penyesalanku menetes tanpa terasa. Aku seketika sadar dari lamunananku karena hujan telah reda, kemudian kulanjutkan pulang.

Sudah hampir sebulan aku tinggal dirumah Andi. Uangku hanya tersisa beberapa lembar saja setelah kupakai 'mondar-mandir' mencari kerja. Andi dan adiknya mulai prihatin dengan keadaanku tapi mereka hanya bisa memberiku support agar tetap semangat.
Tiba-tiba suatu malam Ibu Sarah memanggilku ke lantai bawah karena ada hal yang ingin ia bicarakan denganku.

"Duduk disini jangan malu-malu." Kata ibu Sarah menyilahkan aku.

"Terimakasih Bu." Jawabku langsung mengambil tempat duduk berhadapan.

"Kudengar-dengar kamu sedang mencari pekerjaan, sudah dapetkah?" Lanjut Ibu Sarah.

"Benar Bu. Saya sudah berulang kali melamar tapi sampai saat ini saya belum dapat pekerjaan." Jawabku sejujurnya.

"Emm.. Pekerjaan apa yang kamu inginkan?" Ibu Sarah kembali bertanya.

"Soal kerja saya tidak terlalu milih-milih Bu, yang penting halal." Jawabku sembari senyum.

"Ibu punya teman. Ia punya toko sembako yang letaknya tak jauh dari rumah tinggalnya.
Kebetulan ia butuh pekerja karena ia sedang sakit, kalau kamu mau aku siap membantumu." Jelas ibu Sarah menawarkan pekerjaan kepadaku.

"Dengan sangat berterima kasih, saya siap bekerja di toko teman ibu." Jawabku senang.

"Emm.. Baiklah. Besok pagi Ibu akan mengantarmu menemui temanku." Kata Ibu Sarah.

Pagi hari sekitar jam tujuh, Ibu Sarah mengantarku ke rumah temannya yang bernama Ibu Ririn. Setelah lima belas menit dalam perjalanan akhirnya kita sampai dirumahnya Ibu Ririn. Selanjutnya aku resmi bekerja di toko Ibu Ririn. Awalnya toko itu 'diurus' sendiri oleh Ibu Ririn dan dibantu putri semata wayangnya yang bernama Ela. Suaminya sudah meninggal dua tahun yang lalu karena kecelakaan. Sejak itulah Bu Ririn mulai sakit-sakitan. Makanya membutuhkan seseorang untuk mengurus tokonya dan kebetulan akulah orang yang dipercayai Bu Ririn untuk mengurus toko itu bersama Ela. Sejak itu aku tinggal di toko Bu Ririn sendirian. Bu Ririn tinggal bersama Ela di rumahnya yang jauhnya sekitar satu kilometer daari tokonya.

setelah beberapa bulan aku kerja di toko Bu Ririn, aku tak merasa seperti pekerja. Bu Ririn memperlakukan aku seperti anaknya sendiri. Kasih sayangnya kepadaku tak jauh beda dengan kasih sayangnya kepada Ela. Oleh sebab itu, aku juga menganggap Bu Ririn seperti ibuku sendiri. Belum genap setahun aku bekerja, Bu Ririn tiba-tiba sakit keras. Itulah sebabnya toko Bu Ririn terkadang tiba-tiba tutup karena aku juga sibuk membantu Ela merawat ibunya. Suatu ketika saat toko sedang sepi, Ela menghampiriku ke toko.

"Mas, sekarang juga Mas disurah menemui ibu dirumah. Biar aku dulu yang jaga toko." Kata Ela menyampaikan pesan ibunya.

"Ada apa ya kok tumben ibu memanggilku tiba-tiba?" Jawabku keheranan.

"Mana aku tahu Mas. Sebaiknya segera temui ibu aja, mungkin ada sesuatu yang penting yang perlu ibu bicarakan ke Mas." Sambung Ela. Lalu aku segera meluncur ke rumah Bu Ririn. Sesampainya disana aku langsung menemui Bu Ririn dikamarnya.

"Apa benar ibu memanggil saya?" Kataku membuka percakapan.

"Benar Nak. Ada yang perlu ibu bicarakan kepadamu. Aku mau nanya sesuatu sama kamu, tolong jawab dengan jujur." Tutur Bu Ririn.

"Tentang apa Bu?" Tanyaku.

"Apakah kamu sudah punya pacar atau kekasih?" Tanya Bu Ririn yang membuatku keheranan.

"Kenapa ibu nanya begitu?" Kataku nanya balik.

"Jawab saja, aku tak bermaksud buruk kepadamu Nak." Jawab Bu Ririn serius.

"Saya tidak mau pacaran Bu. Saya mau langsung nikah aja kalau nanti hidupku sudah mapan." Jawabku sekenanya.

"Maukah kamu menikah dengan Ela?" Kata Bu Ririn yang membuatku semakin keheranan.

"Ibu bisa aja bercanda walaupun ibu sedang sakit." Jawabku tersenyum.

"Ibu tidak sedang bercanda Nak, kamu sudah lama kenal ibu, kamu pasti sudah tahu bedanya ibu serius dan bercanda. Ibu ingin 'titip' Ela ke kamu Nak, karena kurasa kamu bisa jadi imamnya Ela, anakku satu-satunya." Tegas Bu Ririn.

 "Ibu jangan berfikir macam-macam dulu, entar sakitnya tambah parah." Sambungku.

"Tidak. Malah sakit Ibu tambah parah kalau kamu tak mau menjawab pertanyaan Ibu." Lanjut Bu Ririn. Aku diam beberapa saat, seketika ruangan menjadi hening. Aku menyadari bahwa Bu Ririn tidak sedang bercanda. Lalu aku mulai berkata pelan.

"Maafkan saya Bu, saya tak bisa memberikan jawaban sekarang. Beri saya waktu untuk berfikir. Tiga hari lagi saya akan kembali menemui ibu kemari." Janjiku.

"Baiklah Nak. Ibu percaya sama kamu." Kata Bu Ririn menutup pembicaraan.

Aku keluar dari kamar Bu Ririn dengan membawa beban dalam pikiran. Sempat terlintas dalam pikiranku tentang sebab aku meninggalkan kampung halaman. Aku diusir oleh orang tuaku karena menolak menikah dengan Alin, wanita pilihan ortuku. Dan masalah yang hampir sama datang memhampiriku kembali. Bu Ririn yang kuhormati layaknya ibuku sendiri, 'menitipkan' Ela putri semata wayangnya kepadaku karena aku dianggap mampu dan pantas jadi pendamping hidup Ela. Lalu mulai terbayang dalam benakku, seandainya aku menolak keinginan Bu Ririn, apakah ia akan mengusirku dari toko tempatku tinggal dan bekerja? Kemana lagi aku harus pergi? Aku dilema dan tak tahu bagaimana cara keluar dari masalahku.

Tiga hari berikutnya, tepatnya malam hari sekitar jam tujum, toko aku tutup dan segera meluncur ke rumah Bu Ririn untuk memenuhi janjiku. Sampai dirumah Bu Ririn, aku langsung menemuinya di kamarnya. Ternyata Ela juga ada disitu sedang membicarakan sesuatu.

"Silahkan duduk Nak." Kata Bu Ririn yang sedang berbaring di ranjangnya.

"Terimaksih Bu." Jawabku.

"Gimana? Kamu sudah punya jawaban yang pasti?" Tanya Bu Ririn tanpa basa-basi.

"Ibu, bagi saya Ibu adalah orang tua saya disini. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Ibu, sejujurnya saya tak dapat memberikan jawaban. Maafkan saya Bu." Jawabku dengan kepada tertunduk ke lantai.
 
"Apa kamu mau mempermainkan Ibu yang sedang sakit ini? Bukankah kamu berjanji akan memberi jawabanmu sekarang?" Lanjut Bu Ririn.

"Mohon maaf Bu. Alangkah lebih baik bila pertanyaan ibu itu lebih dulu dilontarkan kepada Ela." Sambungku.

Kamar Bu Ririn malam itu laksana ruang sidang yang didalamnya sedang ada pertemuan penting. Ela yang duduk dipinggiran ranjang ibunya hanya diam memperhatikan pembicaraan.

"Baiklah jika itu maumu Nak." Kata ibu sambil mengalihkan pandangannya ke arah Ela.

"Anakku Ela, kau bersedia kan menikah dengannya?" Tanya Bu Ririn kepada Ela sambil menoleh kearahku.

Ela tak langsung menjawab pertanyaan ibunya. Sesaat ia mematung, lalu kulihat mata indah Ela berkaca-kaca dan mulai menguraikan air mata. Kuyakin ia akan menggelengkan kepalanya dan berkata 'Tidak'. Sesaat kemudian terdengar suara Ela yang serak.

"Ibuku, apa guna saya menjawab pertanyaan itu jika nanti jawabanku tidak selaras dengan kehendak ibu? Sesungguhnya ibulah yang berhak sepenuhnya atas diriku." Begitu kata-kata yang keluar dari bibir manisnya Ela. Aku tidak menyangka Ela akan menjawab pertanyaan ibunya sebijak itu. Tampak sekali bahwa ia lebih mengedepankan kehendak ibunya daripada kehendaknya sendiri. Ia benar-benar menunjukkan sembah baktinya kepada orang tua, tidak seperti aku yang egois dan selalu membangkang kepada orang tua. Lalu Bu Ririn kembali mengalihkan pandangannya ke arahku dan berkata.

"Kamu telah mendengar sendiri jawaban Ela. Sekarang Ibu ingin mendengar keputusanmu. Tapi ingat, Ibu tidak memaksamu. Ikuti saja kata hati nuranimu." Kata Bu Ririn ingin kepastian dariku.

Aku tak langsung menjawab karena jawabanku akan menentukan langkahku ke depan. Sejenak kuhela nafas panjang membuang sesak didadaku. Kemudian dengan tenang kuanggukkan kepalaku dan berkata.

"Baiklah Bu. Saya siap menikah dengan Ela. Mohon doa Ibu semoga saya bisa jadi imam yang baik bagi Ela." Kata-kata itu keluar dari mulutku seperti tanpa kusadari. Kemudian kutatap wajah Ela yang masih berurai air mata, lalu kuusap air mata dipipi kirinya dengan tangan kananku. Ela tak berontak, tatapannnya yang sayu tertuju ke wajahku, lalu kukatakan sesuatu dengan pelan.

"Ela, maafkan aku. Sungguh ini bukan pilihanku. Aku hanya mengikuti hati nuraniku". Ela hanya diam dan mengangguk pelan mendengar ucapanku.

# # #

Senin legi menurut perhitungan kalender jawa merupakan hari dilangsungkannya pernikahanku dengan Ela putri semata wayangnya Bu Ririn pemilik toko tempatku bekerja. Pagi hari sekitar jam delapan aku menyatakan ikrar pernikahan disebuah aula milik Kantor Urusan Agama dengan disaksikan tak kurang dari dua puluh orang. Esok harinya langsung diadakan tasyakuran pernikahanku dengan Ela di rumah Bu Ririn mertuaku. Perayaannya cukup sederhana namun meninggalkan kesan yang dalam bagi diriku sendiri. Telah berakhir sudah statusku sebagai lajang karena tuhan telah mempertemukanku dengan jodohku dalam wujud diri Ela. Sungguh sebelumnya aku tak pernah memilih Ela untuk jadi pendamping hidupku tapi siapa yang dapat mengelak bila tuhan berkehendak? Ela yang selama ini kuanggap sebagai adikku sendiri telah sah menjadi istriku. Bu Ririn ibunya Ela yang tak lain adalah majikanku telah berganti status menjadi mertuaku. Bagi mereka yang tidak berada diposisiku dan tidak tahu latar belakangnya, mungkin mengira aku adalah orang yang tak tahu malu. Aku yang harusnya berterima kasih kepada Bu Ririn karena telah memberiku pekerjaan malah 'menyikat' putri tunggalnya. Namun aku tak pernah memikirkan hal itu, bagiku apa yang sedang kujalani adalah kehendak tuhan yang tak dapat kuhindari. Tentang cinta, aku dan Ela memang menikah bukan atas dasar cinta. Aku hanya bermodal keyakinan bahwa Ela adalah wanita yang baik dan bisa memberiku kebahagiaan. Aku juga tak pernah tahu tentang perasaan Ela kepadaku. Setahuku Ela menikah denganku semata-mata untuk menuruti kehendak ibunya yang sedang sakit. Padahal aku tahu sebelum Ela sah menjadi istriku, ia sudah punya kekasih. Tapi demi kebahagiaan ibunya ia rela meninggalkan kekasihnya dan berpaling kepada pria piliihan ibunya yaitu aku. Betapa mulia sikap Ela yang lebih mementingkan kebahagian ibunya daripada kebahagiaan dirinya. Ia bukanlah sosok manusia yang egois dan keras kepala sepertiku. Tapi aku pikir itulah wujud keadilan tuhan. Dia telah mengirimkan Ela yang lemah lembut dan penyabar untuk meluluhkan aku yang keras kepala dan egois

Diawal pernikahanku, rumah tanggaku cukup harmonis layaknya pengantin baru pada umumnya. Aku dan Ela mulai bisa menempatkan posisi kita masing-masing. Sebagai suami, aku selalu berusaha memanjakan Ela istriku walaupun sebenarnya ia bukan wanita pemanja. Elapun demikian, semenjak ia menjadi istriku tak pernah ia membuatku kecewa dalam hal apapun. Dari situlah akhirnya bunga-bunga cinta mulai bermekaran diantara hati kami berdua. Dari situ pula, aku menyadari bahwa membangun rumah tangga tak harus diawali dengan cinta karena tak sedikit diantara mereka yang telah berumah tangga tanpa didasari rasa cinta sebelumnya. Dan ajaibnya kehidupan rumah tangga mereka terkadang lebih sejahtera dan harmonis daripada mereka yang lama menjalin hubungan cinta sebelum nikah. Hal itu terjadi dalam rumah tanggaku sendiri. Aku dan Ela memang tak pernah saling mencintai tapi setelah kami jadi pasangan suami istri, kehidupan rumah tangga kami tak kalah harmonisnya dengan mereka yang menikah karena memang sudah lama pacaran. Bahkan ekonomi keluargaku juga lebih 'tegak' dibandingkan sebelumnya. Toko mertuaku yang kukelola berdua dengan istriku tampak lebih lancar dan berkembang. Enam bulan usia pernikahanku dengan Ela, aku merasa kewalahan mengurus toko itu berdua bersama istriku. Akhirnya aku mempekerjakan seorang untuk membantu aku dan istriku. Bu Ririn mertuaku memang sudah memasrahkan sepenuhnya tentang pengelolaan toko itu kepada Ela sejak ia sakit. Setiap kali aku melihat mertuaku terbaring lemah diranjang, aku teringat ibuku di kampung. Sudah lama tak kudengar kabar keluargaku di kampung halamanku. Rasa rinduku kepada ayah, ibu dan seluruh keluargaku sering menyesakkan dadaku. Tapi sama sekali tak ada hasratku untuk pulang dan kembali bersama mereka. Terkadang juga terkenang dalam ingatanku tentang mantan tunanganku si Alin. Andai aku mau menurut kepada orang tua seperti Ela, mungkin aku tetap tinggal di kampung dan menikah dengan Alin wanita pilihan orang tuaku. Tapi aku memilih pergi meninggalkan keluarga daripada menikah dengan Alin. Saat itulah kali perama aku belajar merantau. Kucampakkan melai yang dipetikkan orang tuaku untukku tapi akhirnya aku meneemukan mawar di sudut kota perantauanku. Tuhan telah menyiapkan wanita yang lebih baik dari Alin setelah aku meninggalkan keluargaku. wanita itu tak lain adalah Ela yang telah sah menjadi istriku. Di tahun kedua dari pernikahanku, aku dan istriku harus menjalani cobaan yang cukup berat. Bu Ririn mertuaku menutup usianya setelah sekian lama sakit. Kita yang hanya hidup bertiga akhirnya harus rela melepas kepergian Bu Ririn. Aku yang hanya menantunya sangat merasa kehilangan atas meninggalnya Bu Ririn apalagi Ela putri semata wayangnya yang tersayang. Kebaikan Bu ririn selalu terkenang dalam pikiranku. Beliau adalah orang yeng telah mengangkatku dari keterpurukan, memberiku pekerjaan, memperlakukan aku seperti anak kandungnya sendiri, bahkan putri tunggalnya juga diamanahkan kepadaku. Sungguh amat langka mencari orang yang seperti Bu Ririn, apalagi di kota besar tempatku merantau. Seratus hari setelah meninggalnya mertuaku, tuhan menunjukkan keadilannya. Ela istriku dinyatakan positif hamil oleh dokter spesialis kandungan. hal iu membuat suasana berdukaku atas meninggalnya mertuaku sedikit terobati.

Empat bulan usia kehamilan istriku, sempat terlintas dalam ingatanku tentang ayah ibuku dikampung. Ingin rasanya aku mengabari mereka tentang kehamilan istriku tapi ada keraguan dalam hatiku untuk mengabari mereka. Aku belum yakin bahwa ayah dan ibuku akan senang mendengar kabar kehamilan istriku. Maka satu-satunya cara untuk menyampaikan kabar kehamilan istriku kepada keluargaku dikampung yaitu dengan cara menghubungi tante ira salah satu keluargaku yang masih peduli kepadaku. Aku hanya berharap tante ira mengabarinya kepada ayah dan ibuku.

Beberapa bulan berikutnya, tepatnya di hari yang kelima bulan april lahir anakku yang pertama berjenis kelamin perempuan. Bayi yang wajahnya mirip ibunya itu lahir disebuah rumah bersalin 'mutiara bunda' yang letaknya tak jauh dari rumah tinggalku. Tiga hari istriku dirawat dirumah bersalin tersebut karena memang lahir normal tanpa operasi. Aprilia Nur Izza, begitu nama yang diberikan Ela istriku kepada buah hati kami yang masih merah itu dengan harapan semoga anak itu menjadi cahaya kemuliaan bagi kedua orang tuanya. Satu hal yang membuatku menghela nafas saat memikirkan nasib April buah hatiku. Sejak lahir ia belum disentuh kakek dan neneknya. Pada umumnya kehadiran seorang cucu biasanya disambut dengan senyuman kebahagiaan seorang kakek ataupun neneknya tapi nasib April tidak seperti cucu biasanya. April lahir jauh dari kakek dan neneknya atau bahkan kakek dan neneknya tidak pernah tahu bahwa mereka punya cucu yang cantik mungil. Aku dan istriku merawat April dengan bantuan tante Emi adik bungsu almarhumah mertuaku yang sejak istriku melahirkan tinggal bersama kami. Sebenarnya tante Emi tinggal bersama suaminya di kota tempat suaminya bekerja. Tapi karena Ela keponakannya melahirkan, maka aku memintanya untuk tinggal bersama kami untuk membantu merawat April yang masih bayi. Dari tante Emilah istriku banyak belajar cara mengurus bayi yang baik. Belum genap setahun usia April, ada kabar dari tante ira tentang keadaan ibu yang sedang sakit dan sudah dua hari opname dirumah sakit. Kabar itu membuat aku resah dan gelisah. Wajah ibuku selalu membayangi setiap gerakku. Awalnya aku merahasiakan tentang keadaan ibuku kepada Ela istriku. Tapi karena hati kecilku terus mendesakku untuk pulang. Rasa rinduku kepada ibuku telah membuatku tak enak makan dan tak nyenyak tidu. Akhirnya disuatu malam saat aku tak dapat terlelap, aku menceritakan keadaan ibuku kepada istriku

"Dik.. Kemarin tante ira meneleponku. Ia membawa kabar buruk tentang ibu. Sekarang ibu sedang dirawat dirumah sakit dan aku ingin sekali menemui ibu dikampung. Apa adik mau ikut?" Kataku kepada istriku yang juga belum tidur karena si kecil masih menetek.

"Kenapa Mas baru memberitahuku sekarang kalau ibu sedang sakit? Apa Mas tega meninggalkan Ela sendirian disini? Tante Emi kan sudah kembali kerumah suaminya." Jawab istriku seperti tak rela ditinggal aku pergi.

Dua hari berikutnya aku pergi meninggalkan kota rantauku membawa anak dan istriku menuju kampung halamanku. Rumah dan toko aku percayakan kepada Bu Sarah sahabat almarhumah mertuaku yang sudah seperti keluarga sendiri. Aku pulang membawa harapan semoga 'baby'ku April yang masih suci itu dapt membuka pintu maaf kakek dan neneknya untukku. Sesampainya di kampungku, aku sengaja tak langsung pulang kerumah orang tuaku. Aku pulang kerumah tante ira dan bermalam disana. Keesokan harinya, tante ira dan suaminya mengantarku bersama istri dan anakku ke rumah orang tuaku. Di tengah perjalanan menuju rumah orang tuaku, aku melihat wanita seusia istriku yang wajahnya tak asing lagi bagiku. Wanita itu tak lain adalah si Alin. Ia sedang berboncengan dengan seorang pria yang tak kukenal. Dilihat dari cara berboncengannya mereka seperti sepasang suami istri. Dan ternyata benar, kata tante ira Alin memang sudah menikah setahun yang lalu dengan seorang pria yang kenal di facebook. Setibanya dirumah orang tuaku rumah lagi kosong, maka kami memutuskan untuk kerumah sakit bersama-sama. Sepuluh menit kemudian kami sudah sampai dirumah sakit. Sejenak aku ragu untuk melangkah masuk ke dalam ruangan dimana ibuku dirawat. Tapi aku menghiraukan perasaanku itu. Aku dan istriku masuk mengiringi tante Ira dan suaminya. Di ruangan itu hanya ada ayahku yang sedang duduk di tepi ranjang pembaringan ibuku. Kulihat ibu sedang tidur pulas. Ayah yang ada disampingnya tampak pucat seperti kurang tidur. Seketikka itu juga aku menyambar tangan kanan ayah tanpa suara dan menciumnya. Ela istriku mengikuti apa yang kulakukan. Ayahku diam saja saat aku istriku menciumi tangan kanannya bergantian. Tampak dari wajah ayah bahwa ada segumpal kesedihan yang sedang menyelimuti perasaannya. Ayah seperti sedang merasakan sakit yang sedang diderita ibu. Aku sendiri belum tahu penyakit apa yang sedang diderita ibu. Hampir sepuluh aku duduk disamping ibu sambil menggenggam tangannya, tapi tak kudengar kata-kata yang keluar dari bibir ayah untukku. Ayah hanya mengobrol dengan suami tante ira, itupun hanya beberapa patah kata saja. Ayah lebih banyak diam. Sesaat kemudian ibu terbangun. Mungkin karena merasa tangannya ada yang sedang menggenggamnya, tiba-tiba ibu seperti mau melepas tangannya tapi aku menggenggamnya erat. Kemudian ibu membuka matanya dan seperti terkejut saat tahu bahwa aku yang sedang menggenggam tangannya sedari tadi. Ibu diam saja saat aku menciumi tangannya. Istriku yang setari tadi duduk bersebelahan dengan tante ira juga mendekatiku dan duduk disebelahnya sembari tangannya ikutan menggenggam tangan ibuku. April buah hati kami sudah lelap dipangkuan tante ira. Kulihat mata mulai berkaca-kaca tapi bibirnya belum mampu untuk merangkai sepatah kata untukku. Saat itulah aku tak sanggup membendung air mataku yang aku juga tak mengerti apakah air mata bahagia karena aku kembali menatap wajah ibu atau air mata penyesalan karena terlalu lama meninggalkan ibu. Tanpa terasa hari sudah mulai petang. Tante ira dan suaminya pamit pulang, sedang aku dan Ela juga April sengaja malam itu ingin menemani ayah dan ibuku. Sesuatu yang membuatku heran semenjak aku tiba di kampung halamanku, aku tak pernah melihat kakakku dan istrinya. Tengah malamnya, aku tak dapat memejamkan mataku. Kulihat istriku sudah tidur bersama 'baby'nya. Ayahku tidur diluar ruangan tepatnya diruang berkunjung. Karena aku tak juga dapat terlelap tidur, maka aku bangun dan memhampiri ibuku yang sedang terbaring di ranjang. Rupanya ibu juga sudah tidur. Ku tatap wajahnya yang mulai tampak garis keriputnya. Tangan kanannya kembali kugenggam. Lalu aku larut dalam lamunan penyesalanku atas dosa dan salahku kepada ibu. Tanganku terus menggenggam tangan ibuku sambil menciuminya. Dalam hatiku penuh bahwa ibu akan memaafkanku. Aku benar-benar menyesali sikapku kepada ibu di masa lalu. Tanpa terasa aku meneteskan air mata penyesalanku. Tiba-tiba kudengar ibu bersuara parau.

"Kenapa kau menangis Nak?" Kata ibu yang membuatku sadar dari lamunanku.

"Aku menangis karena ibu tak pernah membukakan pintu maaf untukku." Jawabku sambil mengusap air mataku.

"Siapa bilang ibu tak memaafkanmu? Sejak kau pergi meninggalkan ibu dan tak seorangpun tahu kemana kau akan pergi, saat itu juga telah memaafkanmu Nak.kamu tahu kenapa aku sakit? Karena aku selalu kepikiran kepadamu Nak." Jelas ibu sembari meneteskan air mata.

"Ibu, aku sadar betapa besar dosaku kepada ibu, aku selalu membangkang kepada ibu, tak mau menuruti kehendak ibu, maka detik ini, di malam yang bisu ini dan tuhan sedang menyaksikan kita berdua, dengan segala penyesalanku aku memohon maafmu Bu." Kataku disela isak tangisku.

"Anakku, Allah saja tuhan kita maha pengampun. Terlalu ssombong kiranya bagi ibu kalau ibu tidak memaafkanmu. Detik ini juga semoga tuhan mengampuni kesalahanmu. Sebaliknya ibu juga minta maaf, ibu dan ayahmu adalah orang tua yang egois, yang selalu menuntut anak-anaknya memenuhi kehendaknya. Ibu dan ayahmu terlalu mengandalkan rencana akal dan pikiran dan lupa kepada Yang Maha Berkehendak." Begitu penjelasan ibuku. Aku yang mendengarnya spontan memeluk ibuku yang setengah duduk bersandar bantal. Air mata kebahagiaanku terus berlinang membasahi pipiku karena ibuku telah membukakan pintu maaf untukku. Tanpa kusadari ternyata istriku bangun dan mendekatiku yang sedang memeluk ibuku. Kemudian istriku duduk disebelahku dan menyambar tangan kanan ibuku lalu menciumnya sembari berkata.

"Atas nama suamiku aku mohon maaf kepada ibu. Aku menantu ibu, namaku Ela dan bayi perempuan itu adalah cucu ibu, namanya April. Terimalah kami sebagai keluarga ibu." Kata istriku memohon restu ibuku. Tiba-tiba kudengar suara serak ayahku.

"Dengan senang hati ayah dan ibu menyambut kehadiran kalian dan menerima kalian menjadi keluarga kami." Kata ayah yang telah berdiri dibelakangku sambil menggendong cucunya yang masih terlelap tidur.

Dua hari dari peristiwa itu akhirnya dokter memperbolehkan ibu pulang karena keadaannya sudah pulih. Sejak itulah aku, istri dan anakku tinggal dirumah orang tuaku. Kakakku dan istrinya yang sebelumnya tinggal bersama orang tuaku telah tinggal dirumah istrinya sejak mertua laki-lakinya meninggal karena kecelakaan. sebulan aku tinggal bersama ayah dan ibuku, timbul rasa tidak enakku kepada Bu Sarah yang titipkan rumah dan toko peninggalan almarhumah mertuaku. Ela istriku juga mendesakku untuk kembali ke kota karena ia juga merasa tidak enak kepada Bu Sarah. Maka akhirnya kami kami kembali ke kota membawa ayah dan ibuku. Rumah orang tuaku untuk sementara waktu kakak yang menempati. Aku meninggalkan kampung halamanku dengan menggenggam kebahagiaan. Ayah, ibu, istri dan anakku berada disampingku. Kami berlima hidup di sebuah rumah sederhana peninggalan mertuaku. Kebahagiaan yang kurasakan benar-benar sempurna. Sungguh cara tuhan memberikan kebahagiaan diluar prasangka hambanya. Bagiku kebahagiaan itu sederhana yaitu saat orang-orang yang kita sayangi ada dan sedang bersamaku. Sejak itulah aku memahami bahwa tuhan tidak memberikan kebahagiaan dengan jalan yang lurus dan bertabur bunga. Hidup memang pilihan tapi siapa yang mau memilih jalan hidup yang berliku dan bertabur duri seperti jalan hidupku? Maka dari itu kebahagiaan bukan karena apa yang kita pilih melainkan karena kita yakin bahwa yang dipilihkan tuhan adalah yang terbaik bagi kita.

1 komentar: