Akhir bulan Oktober lalu aku pulang
dari pondok pesantren dengan membawa segenap pengetahuan dan pengalaman. Sabtu
siang pengasuh pondokku telah resmi melepasku dan mengembalikanku ke pangkuan
orang tuaku. Ayah dan ibuku telah 'memungutku' kembalii setelah beberapa tahun
mereka 'membuangku' ke pesantren. "Akhirnya aku bebas juga dari penjara
suci itu," Kataku dalam hati. Sebagai seorang alumni pesantren, aku sangat
menyadari bahwa aku pulang membawa beban moral yang cukup berat, aku harus bisa
menjaga nama baikku dan keluarga. Akan teapi aku tak terlalu memikirkan hal
itu. Ibarat burung yang baru lepas dari sangkarnya, aku mulai terbang bebas
sesuka hatiku menikmati duniaku yang baru. Gaya hidupku yang baru sangat jauh
berbeda dengan yang dulu. Aku tak lagi dibelenggu oleh seperangkat aturan. Aku
juga tak perlu lagi berlama-lama antre untuk mandi. Sebelum tidurpun aku tak
perlu rebutan bantal dulu. Bahkan untuk makanpun aku tak perlu bersusah payah
memasak sendiri. Aku benar-benar seperti budak yang baru saja merdeka.
Kunikmati kemerdekaanku sepuas hatiku sampai akhirnya aku lupa latar belakangku
sebagai santri. Sarung motif kotak yang dulunya jadi kebanggaanku telah
berganti celana jeans a abu-abu. Kopiah yang dulu tak lepas dari kepalaku sudah
menjadi sarang nyamuk di dinding kamarku. Buku-buku fiksi yang setia menemaniku
sebelum tidur telah berganti dengan sebatang telepon genggam yang canggih. Alat
itu membuat kebebasanku semakin tidak terbatas. Aku dapat mengintip dunia hanya
dengan sentuhan jari. Segudang informasi bisa kudapat dengan mudah, tak
terkecuali informasi-informasi yang negatif. Tak sulit bagiku mendapatkan
seribu teman melalui seperangkat aplikasi media sosial dalam smartphoneku itu.